.:. Modul Resmi Kemdikbud Pendidikan Kesetaraan - Kejar Paket A B dan C https://emodul.kemdikbud.go.id/ .:.

Selasa, 19 Juli 2022

Kurikulum Operasional (KOS) Satuan Pendidikan Kesetaraan Kurikulum Merdeka


Tahap 1 Webinar Bimtek Kurikulum Merdeka Pendidikan Kesetaraan - Cirebon, 7 Juli 2022 

Youtube: seTara Daring




[Bapak Muh. Yusri Saad] 


Kurikulum operasional pada kurikulum 2013 disebut dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Pada Kurikulum Merdeka penyebutannya cukup Kurikulum Operasional (KOS).


Prinsip pengembangan kurikulum operasional di satuan pendidikan: 

1. Berpusat pada peserta didik 

Pembelajaran harus memenuhi keragaman potensi, kebutuhan perkembangan dan tahapan belajar, serta kepentingan peserta didik. Profil Pelajar Pancasila selalu menjadi rujukan pada semua tahapan dalam penyusunan kurikulum operasional sekolah. 

Peserta didik di PKBM/SKB lebih unik daripada di sekolah formal sehingga penyusunan kurikulum operasional harus berdasarkan kebutuhan mereka. Peserta didik sebagian besar berasal dari kalangan yang tidak mampu, putus sekolah, bekerja, dll. Masing-masing peserta didik membawa keunikan masing-masing. Ada yang datang sekali seminggu, dua kali seminggu, dll.

2. Kontekstual 

Kurikulum operasional menunjukkan kekhasan dan sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan, konteks sosial budaya dan lingkungan, serta dunia kerja dan industri (khusus SMK), dan menunjukkan karakteristik atau kekhususan peserta didik berkebutuhan khusus (khusus SLB). 

Kurikulum operasional harus sesuai dengan kondisi riil. Kondisi di satuan pendidikan jangan dinaikkan untuk menaikkan kredibilitas atau diturunkan untuk mendapatkan bantuan, harus sesuai dengan data yang valid dan fakta yang berlaku

3. Esensial 

Semua unsur informasi penting/utama yang dibutuhkan oleh para pemegang kepentingan tentang kurikulum yang digunakan di satuan pendidikan dapat diperoleh di dokumen tersebut. Bahasanya lugas dan mudah dipahami, tidak mengulang naskah/kutipan yang sudah ada di naskah lain. Dokumen tidak perlu memuat kembali misalnya lampiran Kepmendikbud seperti CP, struktur, dll., dalam dokumen kurikulum operasional. 

Segala Peraturan Menteri tidak perlu dimasukkan. 

4. Akuntabel 

Kurikulum operasional dapat dipertanggungjawabkan karena berbasis data dan aktual seperti jumlah peserta didik yang sebenarnya. 

5. Melibatkan berbagai pemangku kepentingan 

Pengembangan kurikulum satuan pendidikan melibatkan komite satuan pendidikan dan berbagai pemangku kepentingan antara lain orang tua, organisasi, berbagai sentra, serta industri dan dunia kerja untuk SMK, di bawah koordinasi dan supervisi dinas Pendidikan atau kantor kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama sesuai dengan kewenangannya. 


Langkah-langkah penyusunan kurikulum operasional (bagi yang belum pernah sama sekali menyusun kurikulum operasional di satuan pendidikan)

1. Menganalisis konteks karakteristik satuan pendidikan 

2. Merumuskan visi, misi, dan tujuan 

3. Menentukan pengorganisasian pembelajaran

4. Menysusun rencana pembelajaran 

5. Merancang pendampingan, evaluasi, dan pengembangan profesional 

Nomor 1-4 merupakan inti dari kurikulum operasional sehingga harus ada di batang tubuh kurikulum, yang lainnya boleh ada atau tidak, boleh ditaruh di batang tubuh atau di lampiran saja. Contoh yang bisa ditaruh di lampiran adalah kalender akademik dan rencana kerja sekolah. Kurikulum operasional diharapkan setipis mungkin dan bisa dibuat dalam bentuk buku saku sehingga bisa dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan (calon peserta didik maupun orangtuanya). Nomor  3-5 dievaluasi per semester atau per tahun. Desain kurikulum operasional maupun sistematikanya diserahkan ke masing-masing satuan pendidikan.


Langkah-langkah peninjauan dan revisi kurikulum operasional: 

1. Menganalisis konteks karakteristik satuan pendidikan: tinggal memperbaharui data yang ada

2. Meninjau visi, misi, dan tujuan: masih relevan atau tidak

3. Meninjau pengorganisasian pembelajaran

4. Menyusun rencana pembelajaran 

5. Merancang pendampingan, evaluasi, dan pengembangan profesional


Komponen 1: Analisis Karakteristik Satuan Pendidikan 

Prinsip-prinsip analisis: 

- Melibatkan perwakilan warga satuan pendidikan (peserta didik; kondisi sosial, budaya, dan ekonomi; Pendidik dan Tenaga Kependidikan)

- Menggunakan data-data yang diperoleh dari situasi nyata/kondisi satuan pendidikan 

- Mengalokasikan waktu yang cukup untuk pengumpulan, pengorganisasian, analisis, dan dokumentasi data 

- Memilah informasi yang relevan dan menyimpulkan untuk mengembangkan strategi atau solusi

Pilihan cara untuk mengumpulkan informasi: 

- Kuesioner 

- Wawancara 

- Diskusi kelompok terpumpun/Focus Group Discussion (FGD) 

- Observasi 

- Rapor pendidikan 



Komponen 2: Visi, Misi, dan Tujuan Satuan Pendidikan  

Visi: 

- Apakah visi menggambarkan harapan seluruh warga satuan pendidikan?

- Apakah visi menyatakan tujuan besar yang ingin dicapai satuan pendidikan? 

- Apakah visi sudah berpusat pada peserta didik? 

Misi: 

- Apakah misi jelas menyatakan hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai visi? 

- Apakah semua warga satuan pendidikan memahami hal-hal yang menjadi prioritas untuk mencapai visi?

Tujuan satuan pendidikan:

- Apakah tujuan sudah secara jelas menyatakan hasil aksi yang perlu dilakukan untuk mencapai misi? 

- Apakah cara/strategi untuk mencapai misi realistis untuk dijalankan? 

- Tulis tujuan masing-masing Paket A, Paket B, dan Paket C (harusnya berbeda-beda) 



Komponen 3: Pengorganisasian Pembelajaran  

Satuan pendidikan menyusun pembelajaran yang meliputi: 

1. Intrakurikuler 

Pembelajaran berisi muatan mata pelajaran dan muatan tambahan lainnya jika ada (mulok), penetapan konsentrasi, penetapan mata pelajaran yang akan diujikan oleh LPA (minimum 3 mata pelajaran yang ditetapkan oleh LPA sesuai dengan penjenjangan dari negara LPA) dan Praktik Kerja Lapangan untuk SMK atau Magang untuk SLB. 

Sebelum melakukan pengorganisasian intrakulikuler, tetapkan pendekatan pembelajaran yang akan diterapkan (mata pelajaran, tematik, terintegrasi, dan sistem blok) beserta alasanya.

2. Kokurikuler (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila)

Kegiatan kokurikuler yang dirancang terpisah dari intrakurikuler untuk menguatkan upaya pencapaian kompetensi dan karakter sesuai dengan profil pelajar Pancasila melalui tema dan pengelolaan projek berdasarkan dimensi dan fase. 

Beri gambaran umum. Minimal ada nama projeknya, kelas berapa, semester berapa, tema apa, elemen dan subelemennya apa, kapan dilaksanakan, beserta berapa SKK (alokasi waktu).

3. Ekstrakurikuler 

Kegiatan kurikuler yang dilakukan di luar jam belajar di bawah bimbingan dan pengawasan satuan pendidikan. 

Tuliskan ekstrakulikuler apa saja yang ada di satuan pendidikan. Contoh: melukis, bela diri, dll.

 

Pendekatan pembelajaran: 

1. Pendekatan mata pelajaran 

- Paling umum digunakan dalam kurikulum operasional. 

- Setiap pembelajaran dilakukan terpisah antara satu mapel dengan mapel lainnya. 

- Tatap muka dilakukan secara reguler setiap minggu, dengan jumlah jam tatap muka sesuai dengan yang ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan ketentuan minimal dari pemerintah.

2. Pendekatan tematik 

- Pembelajaran disusun berdasarkan tema yang menaungi kompetensi-kompetensi dari berbagai mata pelajaran. 

- Pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. 

- SD/MI dapat mengorganisasikan muatan pembelajaran menggunakan pendekatan mata pelajaran atau tematik.

3. Pendekatan secara terintegrasi

- Konsep-konsep dan keterampilan tertentu dari mata pelajaran diajarkan secara kolaboratif (team teaching). 

- Pendidik berkolaborasi sedemikian rupa untuk merencanakan, melaksanakan dan melakukan asesmen untuk suatu pembelajaran yang terpadu. 

- Sebagai contoh mengajarkan muatan Ilmu Pengetahuan Alam atau Ilmu Pengetahuan Sosial secara terintegrasi.

4. Pendekatan blok (pendekatan secara bergantian dalam blok waktu terpisah) 

- Pembelajaran dikelola dalam bentuk blok-blok waktu dengan berbagai macam pengelompokkan. 

- Sebagai contoh, mata pelajaran IPS, Bahasa Indonesia dan IPAS akan diajarkan dari jam 07.00- 12.00 dalam semester 1. Contoh lain, mengajarkan muatan Ilmu Pengetahuan Alam atau Ilmu Pengetahuan Sosial secara bergantian dalam blok waktu yang terpisah.

Jika menggunakan 2 pendekatan pembelajaran (contoh pendekatan mata pelajaran dan sistem blok), harus ada 2 struktur kurikulum pendeketan. Misal, IPA dan IPS menggunakan sistem blok, keluarkan mata pelajaran tersebut dari kurikulum dengan pendekatan mata pelajaran, masukan ke kurikulum pendekatan sistem blok. 


Komponen 4: Perencanaan Pembelajaran 

Perencanaan pembelajaran meliputi: 

1. Ruang lingkup satuan pendidikan - penyusunan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) atau Silabus 

Dalam ruang lingkup satuan pendidikan, perumusan dan penyusunan alur dan tujuan pembelajaran atau silabus mata pelajaran berfungsi mengarahkan satuan pendidikan dalam merencanakan, mengimplementasi, dan mengevaluasi pembelajaran secara keseluruhan sehingga capaian pembelajaran diperoleh secara sistematis, konsisten, dan terukur. 

Beri 1 contoh ATP. 

2.  Ruang lingkup kelas - penyusunan modul ajar atau Rencana Pelaksanan Pembelajaran 

Untuk dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran pada ruang lingkup kelas, satuan pendidikan dapat menggunakan, memodifikasi, atau mengadaptasi contoh modul ajar yang disediakan Pemerintah, dan cukup melampirkan beberapa contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)/modul ajar atau bentuk rencana kegiatan yang mewakili inti dari rangkaian pembelajaran pada bagian Lampiran. 

Beri 1 contoh modul ajar. Sebisa mungkin contoh ATP dan modul ajar yang diberikan linear, kelas dan semesternya sama. 

Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dan asesmen pada mata pelajaran Praktik Kerja Lapangan (PKL) di SMK dilaksanakan secara kolaboratif oleh satuan pendidikan dan mitra dunia kerja.

penyusunan  rencana pembelajaran kurikulum operasional kurikulum merdeka

CP: Capaian Pembelajaran (dulu KI-KD) 

TP: Tujuan Pendidikan 

ATP: Alur Tujuan Pendidikan (dulu silabus) 

Modul ajar: dulu RPP

Susun ATP dengan menggunakan nomor atau huruf. ATP hanya mengurutkan TP saja. Urutan di TP bisa menggunakan simbol saja karena belum urut.


Komponen 5: Pendampingan, Evaluasi, dam Pengembangan Profesional 

Komponen ini tidak wajib ada di dalam kurikulum operasional, namun tetap direkomendasikan. 

Evaluasi dilakukan dalam jangka pendek (kurikulum operasional) maupun jangka panjang (satuan pendidikan itu sendiri).  

Prinsip-prinsip melakukan evaluasi: 

1. Menetapkan tujuan evaluasi yang akan dilakukan 

Apa yang mau dievaluasi? 

Apa sudah sesuai pembelajarannya?

Apa sudah sesuai maupun penyusunannya?

2. Menetapkan data/informasi yang ingin didapatkan dalam kegiatan peninjauan

3. Menentukan bentuk asesmen yang akan dilakukan untuk mendapatkan data/informasi yang diinginkan 

4. Merancang aktivitas evaluasi yang bersifat reflektif dan dapat dijadikan pengembangan bagi pendidik dan pelaksana program 

5. Menggunakan alat penilaian pencapaian yang jelas dan terukur 

Contoh: instrumen, kuisioner, tanya jawab langsung, dll


Sebelumnya Regulasi dan Kebijakan Kurikulum Merdeka

Selanjutnya Desain Kurikulum Operasional (KOS) Satuan Pendidikan Kesetaraan

Artikel Terkait

0 komentar:

Posting Komentar