.:. Modul Resmi Kemdikbud Pendidikan Kesetaraan - Kejar Paket A B dan C https://emodul.kemdikbud.go.id/ .:.

Selasa, 03 November 2020

Tips Lomba Apresiasi GTK PAUD dan Dikmas


Kali ini saya mau bercerita sedikit mengenai lomba apresiasi GTK PAUD dan Dikmas yang saya ikuti hampir dua tahun yang lalu. Yak, tahun ini saya tidak (mau) ikut walaupun penilaiannya dilakukan secara daring karena masih pagebluk Covid-19.

Mengapa saya tidak (mau) ikut lagi tahun ini?

Saya tidak mempunyai inovasi.

Tahun ini tema lombanya adalah best practice dalam melaksanakan pembelajaran dari rumah. Tekniknya baru dipraktikkan satu-dua kali pun boleh.

***

Tahun lalu saya mengikuti lomba ini dengan modal nekat: baru mengajar di PKBM setahunan dan tidak paham apa-apa apalagi berkaitan tentang silabus, RPP, kurikulum, maupun micro-teaching. Saya berasal dari jurusan teknik. 

Mengapa saya mau ikut? Karena diajak ketua PKBM.

Padahal lomba hanya boleh diikuti oleh tutor yang sudah mengajar minimal 2 tahun. Begitu dapat juknisnya, saya langsung lemas. *dang, haha ....

Lomba tahun lalu bekaitan dengan inovasi yang sudah dilakukan oleh tutor dalam pembelajaran.

Selama sosialisasi juknis lomba 2 hari saya tidak menangkap sedikit pun inovasi yang diharapkan oleh juri. Yak, materi dan pertanyaannya muter-muter tidak jelas. Narasumber cenderung lebih suka bercerita tentang suka citanya menjadi pemenang. Saya tidak mendapatkan tips dan trik dalam mengerjakan tulisan. Tutor lain di sebelah saya pun malah lebih bingung padahal sudah mengajar di PKBM X selama beberapa tahun.

Saya pun mulai bergerilya di internet untuk mendapatkan pencerahan, minimal judul tulisan. Apa yang saya dapatkan? Zonk! Hanya ada metode umum pembelajaran, bukan inovasi.

Hari H penjurian di tingkat kabupaten pun tiba. Saya terpukau dengan tulisan tutor-tutor lain. Inovasi mereka cukup wow untuk saya. Apa yang dikatakan juri? "Saya belum melihat adanya inovasi."

Sampai penjurian pada tutor pendidikan kesetaraan selesai, saya masih tidak paham inovasi yang dimaksud para juri. Saya baru menangkap "inovasi" saat penjurian pada tutor keaksaraan fungsional (tutor yang mengajarkan menulis, membaca, dan berhitung tahap awal kepada penyandang buta aksara). Juri baru memberi contoh inovasi.

Contoh inovasinya adalah cara membedakan huruf b dan d.

Yak, inovasinya bisa berupa membuat gambar, mozaik, maupun lainnya.

Inti dari inovasi yang diharapkan oleh juri sebenarnya sederhana: bagaimana caranya peserta didik yang tidak paham suatu materi bisa paham secara mudah.

Cenderungnya peserta didik akan menghasilkan produk dari inovasi tersebut.

Udah itu aja.

Contoh lain : membedakan jenis atom.

Tutor bisa menggunakan biji-bijian yang berbeda ukurannya kemudian menamai masing-masing biji tersebut dengan nama suatu atom. Namun, cara ini agak merepotkan bagi saya. *maafkan ....*

***

Bagaimana hasil tulisan saya? Secara tulisan saya tidak mendapat komentar. Saya terbaik dalam menarik benang merah. Namun, secara isi saya tidak diacuhkan, di-skip oleh juri secara tidak langsung. Saya tidak mempunyai inovasi. Selesai presentasi, Saya down. Saya terburuk di antara semua peserta. Nyesel ga? Enggak! Nyesek iya. *mari tertawa lepas*

Good news, saya paham inovasi yang juri harapkan sementara peserta lain tidak. Hei, aku lebih hebat daripada kalian, muahahahaha ....

***

Segini saja tips dan trik tidak penting dari saya. Semoga membantu dan saya bisa dapat endorse dari dinas atau narasumber lain. :')

Artikel Terkait

0 komentar:

Posting Komentar